Entri Populer

Minggu, 24 Juli 2011

Rumput laut Euchema spinosum










BIOLOGI LAUT
Rumput Laut Euchema spinosum

OLEH:
RYAN NAZMI
0904114389




TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN dan ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011

















KATA PENGANTAR
            Puji syukur berkat rahmat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan segalanya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas paper pada mata kuliah “Bologi Laut” tentang rumput laut dengan species “Euchema spinosum” ini. Tak lupa pula shalawat beriringkan salam kepada rasulullah Muhammad SAW yang menjadi contoh dan teladan bagi para manusia dengan akhlak dan kemuliaan yang beliau miliki.
            Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga tercinta terutama kedua orang tua penulis, Ayah (Akhyaruddin) dan mama (Amaliyah) yang telah memberikan semangat, dorongan, dan motifasi baik berupa moril maupun materil, buat adik-adik (Wildan Izzaty, Irsyad Hanif, dan Mahda Salsabila) yang menjadi motivator bagi penulis untuk dapat menjadi contoh yang baik bagi mereka dalam melaksanakan kuliah dan pembuatan tugas apapun yang diberikan oleh setiap dosen.
            Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada yang tersayang “Melinda Anastasya”, yang selama beberapa tahun telah menemani penulis, serta memberikan semangat dan dorongan yang tiada henti-hentinya agar penulis dapat memberikan yang terbaik untuk kehidupan penulis kelak.
Ucapan terima kasih juga kepada keluarga dari kekasih saya, buat bapak (Dwi wahyu wijaya) dan ibu (Farida anim) yang masih terus memberikan penulis semangat dan dorongan kearah yang positif.
Serta terima kasih kepada sahabat dan teman-teman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pemberian informasi maupun dalam segala hal.
Dalam pembuatan paper tentang species Euchema spinosum ini masih banyak kekurangan yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu penulis  mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada para pembaca, agar dapat menjadi pengalaman bagi penulis dalam pembuatan paper lainnya agar menjadi lebih baik dalam hal penulisan maupun yang lainnya di masa yang akan datang.



                                                                                                Hormat Saya



                                                                                                Ryan Nazmi














BAB I
PENDAHULUAN

1.                  Latar  Belakang
70 % dari permukaan bumi terdiri dari lautan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah lautan terluas, lautan sendiri memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah, mulai dari organisme laut yang beraneka ragam, perhiasan seperti mutiara dll, sampai produksi minyak bumi yang dilakukan di lepas pantai menunjukkan betapa kayanya lautan, namun manusia lebih suka bereksplorasi ke luar angkasa dibandingkan ke laut. Mengapa demikian?
Pada daerah litoral dan sub litoral ditemukan tumbuh-tumbuhan yang terbagi dalam tiga grup antara lain
1.                  Tanaman air yang bersel tunggal yang umumnya hidup dibahagian permukaan pasir danlumpur.
2.                  Tanaman air yang berukuran besar yaitu rumput laut (sea weed) yang dijumpai pada tempat-tempat yang cocok untuk menempel. Misalnya pada pantai berbatu (rocky shore). Semua tumbuhan yang hidup didaerah berbatu ini mengandung klirofil, misalnya Chlorophycae (memiliki pigmen hijau), rhodophycae (memiliki pigmen merah), dan phaeophycae (memiliki pigmen cokelat)
3.                  Beberapa tanaman berbunga (angiospermae) seperti rumput laut zostera dan beberapa pohon-pohon dan semak-semak yang hidup di daerah litoral. (Adnan Kasry, dkk 2010)





1.                  Tujuan Penulisan
                                                                                     
Tujuan pembuatan paper ini adalah sebagai tugas yang telah diberikan oleh bapak Dr.Ir. Syafruddin Nasution. M,sc selaku dosen penanggung jawab pada mata  kuliah biologi laut ini. Selain itu juga, tugas paper ini sebagai penambah pengetahuan baik bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca tentang rumput laut (Seagrass) terutama pada species Euchema spinosum.





















BAB II
METODE (Study Literatur)

Rumput laut merupakan bagian terbesar dari tumbuhan laut. Rumput laut dalam bahasa ilmiah dikenal dengan istilah alga. Berdasarkan pigmen yang dikandungnya rumput laut terdiri atas tiga kelas yaitu Chlorophyceae (ganggang hijau), Phaeophyceae (ganggang coklat), dan Rhodophyceae (ganggang merah). Ketiga kelas ganggang tersebut merupakan sumber produk bahan alam hayati lautan yang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah maupun bahan hasil olahan (Aslan, 1998).
Ruemput laut Eucheuma spinosum pertama kali dipublikasikan pada tahun 1768 oleh Burman dengan nama Fucus denticulatus Burma, kemudian pada tahun 1822 C. Agardh memperkenalkannya dengan nama Sphaerococus isiformis
C. Agardh, selanjutnya pada tahun 1847 J. Agardh memperkenalkannya dengan nama Eucheuma J. Agardh. Dalam beberapa pustaka ditemukan bahwa Eucheuma spinosum dan Eucheuma muricatum adalah nama untuk satu spesies gangang. Dalam dunia perdagangan Eucheuma spinosum lebih dikenal dari pada Eucheuma muricatum (Istiani dkk, 1985). Euchema spinosum memiliki kandungan keraginan yang banyak digunakan dalam berbagai industri (Winarno, 1990).
Euchema spinosum merupakan rumput laut dari kelompok alga merah (Rhodophyceae) yang mampu menghasilkan keraginan. Euchema dikelompokkan menjadi beberapa species yaitu Euchema edule, Euchema spinosum, Euchema cottoni, Euchema cupressoideum dll, namun yang banyak dibudidayakan di Indonesia hanya sebatas Euchema spinosum dan Euchema cottoni.
Euchema spinosum banyak dibudidayakan diwilayah Sumenep-Madura. Akan tetapi species ini masih belum banyak diteliti bagaimana cara ekstrasi untuk menghasilkan iota keraginan maupun komposisi kimia yang dikandung iota keraginan tersebut. Proses selama ini hanya mengacu pada pengolahan langsung menjadai permanen maupun dodol bahkan banyak yang dijual kering tanpa melaui pengolahan.
Keraginan adalah getah rumput laut yang diekstraksi dengan air atau larutan alkali dari species tertentu pada kelas Rhodophyceae. Keraginan berfungsi sebagai pengental, pengemulsi, pensuspensi, dan faktor penstabil
Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan untuk menentukan divisi dan mencirikan kemungkinan filoginetik antara kelas secara khas digunakan komposisi plastida, pigmen, struktur karbohidrat dan komposisi dinding sel.

























BAB III
ISI

1.                  Klasifikasi
Kigdom            : Plantae                                 
Devisi             : Rhodophyta
Kelas               : Rhodophyceae
Sub kelas         : Florideae
Ordo                : Gigartinales
Famili              : Solieriaceae
Genus              : Eucheuma
Spesies             : Eucheuma spinosum (Atmaja dkk., 1996).
2.                  Morfologi
Umunya ciri-ciri dari Euchema sp yaitu thallus silindris, percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, dan ditumbuhi tonjolan-tonjolan, berupa duri lunak yang tersusun berputar teratur mengelilingi cabang. Bentuk dari rumput laut ini tidak mempunyai perbedaan susunan kerangka antara akar, batang, dan daun. Keseluruhan tanaman ini merupakan batang yang dikenal sebagai talus (thallus). Thallus ada yang berbentuk bulat, silindris atau gepeng bercabang-cabang. Rumpun terbentuk oleh berbagai sistem percabangan ada yang tampak sederhana berupa filamen dan ada pula yang berupa percabangan kompleks. Jumlah setiap percabangan ada yang runcing dan ada yang tumpul. Permukaan kulit luar agak kasar, karena mempunyai gerigi dan bintik-bintik kasar. Eucheuma spinosum memiliki permukaan licin, berwarna coklat tua, hijau coklat, hijau kuning, atau merah ungu. Tingginya dapat mencapai 30 cm. Eucheuma spinosum tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun dengn ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari. Cabang-cabang tersebut ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk.
3.                  Distribusi
Di alam, alga laut Eucheuma spinosum tumbuh melekat pada karang mati di ibawah garis surut terendah. Alga ini menerima jumlah cahaya matahari yang berbeda-beda untuk berfotosintesa sesuai dengan kedalamannya. Untuk mengetahui pengaruh kedalaman terhadap laju pertumbuhan E. spinosum, telah dilakukap. percobaan pendahuluan selama dua bulan di Goba Besar II Pulau Pari, Pulau-Pulau Seribu. Percobaan dilakukan pada tiga kedalaman: 30, 60, dan 90 cm dari permukaan dengan menggunakan rak terapung. Laju pertumbuhan diukur dengan menimbang berat basahnya setiap pekan. Hasil menunjukkan bahwa laju pertumbuhan rata-rata E. spinosum pada kedaJaman 30 cm adalah 2,5%/hari, sedangkan pada kedalaman 60 dan 90 cm hanya sekitar 2,0%/hari. Di samping mempengaruhi laju pertumbuhan, tampaknya kedalaman juga berpengaruh terhadap bentuk morfologis dan warna batang alga. Pengaruh sifat-sifat kimia, fisika, dan biologi terhadap pertumbuhan E. spinosum
Eucheuma spinosum tumbuh pada tempat-tempat yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya, antara lain tumbuh pada perairan yang jernih, dasar perairannya berpasir atau berlumpur dan hidupnya menempel pada karang yang mati. Persyaratan hidup lainnya yaitu ada arus atau terkena gerakan air. Kadar garamnya antara 28-36 ppm. Dari beberapa persyaratan, yang terpenting adalah Eucheuma spinosum memerlukan sinar matahari untuk dapat melakukan fotosintesis.
4.                  Ciri- ciri dan Reproduksi
• Dinding sel dari manan dan xilan
• Bentuk talus seperti benang
• Sebagian besar anggota sebagai bahan agar-agar
• Reproduksi aseksual dengan spora haploid dan aseksual dengan konjugasi
Selain Eucheuma spinosum,jenis rumput laut lainnya seperti Gracillaria sp, Gellidium sp, Gigartina sp, dan Chondrus sp juga memiliki karakteristik dan cara reproduksi yang relatif sama.
5.                  Pemanfaatan
Ekstraksi Karaginan dari Rumput Laut (Eucheuma spinosum)
Rumput laut (Eucheuma spinosum) adalah salah 1 komoditas ekspor yang potensial untuk dikembangkan. Disamping permintaan pasar yang tinggi, Indonesia mempunyai sumberdaya yang cukup besar baik yang alami maupun untuk budidaya. Rumput laut Eucheuma spinosum dapat diolah menjadi karaginan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Karaginan ialah senyawa hidrokoloid yang merupakan senyawa polisakarida rantai panjang dan diekstraksi dari rumput laut jenis karaginofit. Karaginan banyak digunakan pada industri pangan, obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi dan industri lainnya. Karaginan memiliki peranan yang sangat penting sebagai stabilisator (pengatur keseimbangan), thickener (bahan pengental), pembentuk gel, pengemulsi.
6.                  Prospek Ekonomi
Produksi rumput laut di Indonesia sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, mengingat terbatasnya penelitian ke arah itu. Walaupun demikian sebaran rumput laut di wilayah perairan pantai Indonesia yang dikemukakan Soegiarto et al. (1978) serta data produksi tahunan dari Dit Jen. Perikanan dapat dijadikan gambaran potensi produksi rumput laut di Indonesia. Daerah yang mempunyai potensi sebagai penghasil rumput laut bernilai ekonomis adalah perairan pantai Kepulauan Riau, pantai barat Sumatera, Bangka Belitung, perairan pantai sebelah barat dan selatan Jawa, bagian timur Madura, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Produksi rumput laut di Indonesia pada tahun 1979 adalah 5945 ton dengan nilai 334 juta rupiah dan pada tahun 1983 sebesar 9607 ton dengan nilai 515 juta rupiah, atau rata-rata per tahuh sebesar 7600 ton dengan nilai 406 juta rupiah (table 1). Tujuh puluh delapan persen dari produksi rumput laut di Indonesia diperoleh dari Maluku, 9 % dari Bali dan NTT, 5% dari selatan Jawa dan sisanya tersebar di daerah lainnya (table 2). Dari tabel tersebut terlihat bahwa produksi rumput laut di Maluku pada tahun 1979 – 1983 adalah 5.920 ton per tahun jumlah tersebut lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu 2125 ton per tahun (Zoebir, 1980).
Suatu kenyataan bahwa produksi rumput laut di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan hasil dari Filipina pada periode yang sama (tabel 1 dan 3). Hal ini disebabkan produksi rumput laut Indonesia hampir seluruhnya berasal dari panen alamiah sedangkan di Filipina berasal dari usaha budidaya yang intensif. Produksi rumput laut yang tumbuh secara alami sangat tergantung pada keadaan substrat, kondisi perairan dan musim. Mubarak (1974) mengemukakan bahwa Eucheuma spinosum lebih baik tumbuh pada pasir bercampur karang mati dan produksinya lebih banyak pada saat setelah musim hujan. Produksi Eucheuma di perairan pantai Maluku dan Nusa Tenggara Timur yang tumbuh secara alami adalah 0.6 – 3.4 ton berat kering per ha.
Dewasa ini di perairan Lasori Sulawesi Tenggara telah dilakukan budidaya Eucheuma dengan produksi 6 – 8 ton / ha. Di Bali dengan budidaya dicapai produksi 5 – 6 ton / ha. Dari hasil budidaya Bali dapat mensuplai Eucheuma lebih dari 120 ton/bulan dari 22 ha areal budidaya. Apabila kita bandingkan dengan produksi hasil panen dari alam di Maluku dan Nusa Tenggara Timur yaitu 0.6 – 3.4 ton / ha, maka usaha budidaya meningkatkan produksi rumput laut Filipina melalui usaha budidaya yang intensif dapat meningkatkan produksi Eucheuma dari 398 ton per tahun pada tahun 1970 – 1973 menjadi 20.000 ton per tahun pada tahun 1978 – 1984 (Porse, 1985). Saat ini Filipina merupakan penghasil rumput laut Eucheuma terbesar yang dapat mensuplai kebutuhan dunia.
Selain Eucheuma, jenis lainnya yang bernilai ekonomis dan cukup potensial adalah Hypnea, Gracilaria, Gelidium dan Gelidiella. Data produksi dari ketiga jenis rumput laut tersebut tidak diperoleh dengan pasti dan pada data statistik berbaur dengan produksi Eucheuma. Di perairan Pulau Kefing Maluku Tengah, produksi Gracilaria adalah 1,28 ton/ha (Sumadiharga, 1978). Penelitian potensi produksi rumput laut di Indonesia masih sangat sedikit dan perlu penelitian lebih lanjut.
Apabila kita bandingkan produksi rumput laut dengan produksi komoditi perikanan lainnya, ternyata nilai rumput laut hanya 0.3 % - nya saja (tabel 4). Nilai yang kecil tersebut memerlukan perhatian yang besar, mengingat perairan Indonesia cukup potensial untuk budidaya rumput laut, prospek pemasarannya cukup baik. Masalahnya sekarang bagaimana caranya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Caranya yaitu mengadakan seleksi bibit yang unggul, mengembangkan budidaya dan memperbaiki cara penanganan lepas panennya.
Tabel 1. Produksi Eucheuma sp di Filipina

TAHUN
PRODUKSI (TON)
1978
13.000
1979
14.000
1980
17.000
1981
18.000
1982
26.000
1983
26.000
1984
23.000



Ekspor rumput laut.
Prospek usaha rumput laut di masa mendatang cukup baik dan memberikan harapan. Sebagai contoh, permintaan dunia terhadap Eucheuma dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Bahkan menurut Doty (1973) permintaan dunia untuk jenis Eucheuma di- taksir dapat mencapai 10 kali produksi alami. Tiga perusahaan industri carrageenan terbesar didunia (USA, Denmark dan Prancis) setiap tahunnya membutuhkan rumput laut sebanyak 20.000 ton sedangkan yang tersedia di pasaran dunia hanya 18.000 ton/tahun (BPEN, 1978). Kemudian Porse (1985) menunjukkan bahwa dewasa ini permintaan dunia untuk Eucheuma adalah 50.000 ton per tahun, sedangkan suplai hanya mencapai 44.000 ton per tahun, untuk memenuhi permintaan dunia masih diperlukan 6.000 ton per tahun. Dari sejumlah suplai Eucheuma, Indonesia hanya mensuplai 9 % - nya.
Ekspor rumput laut dari Indonesia pada tahun 1979 – 1984 rata-rata 1950 ton per tahun dengan nilai US $ 258.000. Volume ekspor tersebut dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah. Pada tahun 1971 dan 1972 ekspor rumput laut dari Indonesia mencapai 3.700 ton, setelah itu menurun dan pada tahun 1980 hanya 596 ton ; akan tetapi pada tahun berikutnya meningkat lagi dan pada tahun 1984 mencapai 3.000 ton (Tabel).
            Tabel 2. Harga rata-rata rumput laut di beberapa negera.

JENIS RUMPUT LAUT
NEGARA
TAHUN
US$/TON
1. Untuk industri agar:
- Gracilaria sp
Chili
1978
760
Jepang
1979
780
- Gelidium sp

Jepang
1978
1.100
Chili
1979
1.100
2. Untuk industri carrageenan :
- Eucheuma spinosum
Filipina
1980
1.120
1981*
385
1982
380
1984*
425
Chili
1981*
500
1984*
460
Canada
1981*
570
1984*
615
Indonesia
1981*
380
1984*
425
- Eucheuma cottonii
Filipina
1980
560
1982
310
3. Untuk industri alginat:
- Algae coklat
rata-rata
1980
250
- Laminaria
Inggris
1979
100
- Ascophyllum
Inggris
1979
100
- Devevilea
Chili
1979
230
- Sargassum
India
1981
130

Sumber : McHugh D.J. and B.V. Lanier (1983)
* Porse (1985)
Disatu pihak Indonesia cukup potensial sebagai penghasil rumput laut seperti agar-agar, algin dan carrageenan. Untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri Indonesia masih mengimpor agar, algin dan carrageenan dalam jumlah cukup besar. Pada tahun 1981 – 1984 Indonesia mengimpor agar senilai US $ 410.958 per tahun dan algin US $ 5.050.426 per tahun (tabel 9) belum termasuk carrageenan. Total agar dan algin rata-rata US $ 5.461.385 per tahun. Nilai agar dan algin tersebut hampir 30 kali nilai ekspor rumput laut pada periode yang sama. Di Indonesia terdapat beberapa perusahaan agar untuk bahan makanan baik skala “home industry” maupun semi tradisional. Industri agar-agar tersebut di Indonesia perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi mengingat potensi bahan bakunya cukup tersedia.
Apabila senyawa agar carrageenan dan alginat dapat diproduksi di dalam negeri, maka nilai impor dari jenis senyawa tersebut dapat menjadi investasi negara dan akan lebih menguntungkan lagi bila sanggup mengekspor hasil olahan dari rumput laut tersebut dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat.
Tata niaga rumput laut.
Sampai saat ini pengelolaan rumput laut oleh nelayan merupakan usaha sambilan yang diperoleh dari hasil panen langsung dari alam. Usaha budidaya hanya berkembang di beberapa daerah saja seperti di perairan Bali sebelah tenggara yaitu di Nusa Dua, Serangan, Nusa Lembongan dan Nusa Penida, di perairan Sulawesi Tenggara seperti di Buton dan usaha budidaya tersebut baru untuk jenis Eucheuma saja. Sebagian besar hasil panen baik yang berasal dari alam maupun budidaya dijual untuk diekspor dan sebagian lagi untuk kebutuhan di dalam negeri sebagai pembuat agar-agar dan juga dikonsumsi sebagai sayuran oleh masyarakat pesisir.

Tabel 3 . Impor agar-agar dan alginat 1980 – 1984

Tahun
Agar-agar
Alginat
Total
Nilai (US$)

Volume (kg)
Nilai (US$)
Volume (kg)
Nilai (US$)

1980
159.349
       
-
-
-

1981
43.372
300.710
4.639.508
5.114.598
5.415.308

1982
261.947
542.193
2.938.303
4.764.968
5.307.161

1983
350.111
526.957
3.717.901
4.848.997
5.375.954

1984
162.885
273.973
3.653.365
5.473.142
5.747.115















BAB IV
PEMBAHASAN
Suatu kenyataan bahwa produksi rumput laut di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan hasil dari Filipina pada periode yang sama (tabel 1 dan 3). Hal ini disebabkan produksi rumput laut Indonesia hampir seluruhnya berasal dari panen alamiah sedangkan di Filipina berasal dari usaha budidaya yang intensif. Produksi rumput laut yang tumbuh secara alami sangat tergantung pada keadaan substrat, kondisi perairan dan musim. Mubarak (1974) mengemukakan bahwa Eucheuma spinosum lebih baik tumbuh pada pasir bercampur karang mati dan produksinya lebih banyak pada saat setelah musim hujan. Produksi Eucheuma di perairan pantai Maluku dan Nusa Tenggara Timur yang tumbuh secara alami adalah 0.6 – 3.4 ton berat kering per ha.
Kandungan Euchema spinosum
Kandungan kimia dari rumput laut Eucheuma spinosum adalah Iota keraginan (65%), protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, air dan abu. Iota keraginan merupakan polisakarida tersulfatkan dimana kandungan ester sulfatnya adalah 28-35%. Komposisi kimia yang dimiliki rumput laut Eucheuma spinosum dapat dilihat pada.

            Tabel 4. Komposisi kimia rumput laut jenis Eucheuma spinosum
Komponen Kimia
Komposisi
Kadar air
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat kasar
Abu
Mineral :
Ca
Fe
Cu
Pb
Vit B1 (Thiamin)
Vit B2 (Ribolavin)
Vit C
Keragenan
21,90 (%)
5,12 (%)
0,13 (%)
13,38 (%)
1,39 (%)
14,21 (%)
52,85 ppm
0,180 ppm
0,768 ppm
-
0,21 mg/100g
2,26 mg/100g
43 mg/100g
65,75 %




















BAB V
KESIMPULAN dan SARAN

Indonesia cukup potensial sebagai penghasil rumput laut. Sampai saat ini Indonesia mengekspor rumput laut dan sebaliknya masih mengimpor hasil olahannya a seperti agar, carrageenan dan algin. Nilai impor senyawa tersebut hampir 30 kali nilai ekspor rumput laut. Sudah saatnya Indonesia meningkatkan dan mengembangkan industri pengolahan rumput laut.
Kualitas rumput laut untuk diekspor masih rendah sehingga harga yang diterima pemetik sangat rendah. Untuk memenuhi syarat ekspor masih perlu dilakukan penyortiran oleh pedagang/penyalur dan eksportir. Kualitas yang rendah, rantai pemasaran yang panjang serta kesulitan sarana transportasi laut menyebabkan terdapat perbedaan harga yang cukup besar antara harga yang diterima pemetik dengan eksportir. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksidapat ditingkatkan melalui usaha budidaya rumput laut. Untuk hal terse but perlu adanya penyuluhan dan pendidikan ketrampilan bagi petani rumput laut baik teknik budidaya maupun penanganan pasca panen disertai penyediaan sarana transportasi dan pinjaman modal dari pemerintah. Rantai pemasaran dapat diperpendek dengan melibatkan KUD setempat sebagai penampung dan penyalur sekaligus pembina bagi petani pemetik rumput laut.










DAFTAR PUSTAKA

Kasry, A,Dr,Prof dkk. 2010. “Ekologi Perairan”. Universitas Riau. Pekanbaru.
Khamdiyah, Nur. 2010. “Pembuatan Etanol dari Alga Merah (Euchema spinosum) dengan Sakarifikasi dan tanpa Sakarifikasi pada Variasi Lama Fermentasi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang.
Winarno, F.G, Dr, Prof. 1990. “Teknologi Pengolahan Rumput Laut”. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
www. My task.com/Euchemaspinosum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar